Text
Ketika Laut Dibaca Mesin
Buku Ketika Laut Dibaca Mesin\r\nBuku Ketika Laut Dibaca Mesin merupakan karya Derita Yulianto yang membahas perubahan dalam dunia kelautan dan perikanan akibat perkembangan teknologi. Laut yang sebelumnya banyak dipahami melalui pengamatan dan pengalaman manusia, kini mulai dianalisis menggunakan mesin, algoritma, data, dan kecerdasan buatan.\r\nSecara tradisional, nelayan mengandalkan pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun dalam menentukan waktu, arah, maupun lokasi penangkapan ikan. Pengetahuan tersebut terbentuk dari pengamatan terhadap musim, angin, arus, serta pola keberadaan ikan. Buku ini mengajak pembaca melihat pergeseran dari pengetahuan berbasis pengalaman dan intuisi menuju sistem yang memanfaatkan data dan probabilitas.\r\nMelalui NELAYA-AI, kondisi laut dapat dipetakan dan dianalisis dengan memanfaatkan data serta kecerdasan buatan. Berbagai informasi seperti suhu laut, klorofil, gelombang, dan arus dapat dikumpulkan dan diintegrasikan untuk menghasilkan gambaran kondisi laut, pola perubahan dari waktu ke waktu, serta berbagai indikator yang dapat mendukung proses pengambilan keputusan.\r\nBuku ini juga melihat laut bukan sekadar sebagai ruang untuk dieksploitasi, tetapi sebagai suatu sistem yang memiliki keterkaitan antara aspek ekologis, ekonomi, dan sosial. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu memperkirakan lokasi ikan, memantau kesehatan laut, serta memahami berbagai tekanan yang terjadi pada ekosistem.\r\nDengan berangkat dari pengalaman nyata, buku ini memberikan gambaran mengenai arah perkembangan perikanan menuju sistem yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan berkeadilan. Buku ini sesuai digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa, peneliti, serta praktisi di bidang kelautan, fisika, dan teknologi. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi bahan refleksi mengenai hubungan manusia dengan laut dan posisi manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan sebagai pihak yang berada di atasnya.\r\nQuote\r\n“Masa depan laut bukan hanya tentang siapa yang menangkap ikan, tetapi siapa yang mampu membaca laut.”\r\nBuku ini terdiri dari beberapa pembahasan, di antaranya:\r\nLaut yang Dulu Dikenal, Laut yang Kini Diukur\r\nNELAYA-AI: Membaca Laut dengan Mesin\r\nKetika Lokasi Ikan Menjadi Probabilitas\r\nLaut Sehat, Laut Rusak, dan Kekuasaan atas Indeks\r\nMarine Protected Area di Era AI\r\nKapal Cerdas dan Robot-Nelayan\r\nDisrupsi Nelayan Tradisional\r\nKekuasaan Data di Laut\r\nAceh sebagai Ocean Frontier\r\nSkenario Masa Depan: 2030–2050\r\nEtika di Tengah Mesin\r\nKembali ke Laut, Kembali ke Manusia\r\nDaftar Isi\r\nKata Pengantar Penerbit — v\r\nPrakata — vi\r\nDaftar Isi — ix\r\nBAB 1 Laut yang Dulu Dikenal, Laut yang Kini Diukur — 1\r\nBAB 2 NELAYA-AI: Membaca Laut dengan Mesin — 6\r\nBAB 3 Ketika Lokasi Ikan Menjadi Probabilitas — 11\r\nBAB 4 Laut Sehat, Laut Rusak, dan Kekuasaan atas Indeks — 16\r\nBAB 5 Marine Protected Area di Era AI — 21\r\nBAB 6 Kapal Cerdas dan Robot-Nelayan — 26\r\nBAB 7 Disrupsi Nelayan Tradisional — 31\r\nBAB 8 Kekuasaan Data di Laut — 36\r\nBAB 9 Aceh sebagai Ocean Frontier — 41\r\nBAB 10 Skenario Masa Depan: 2030–2050 — 45\r\nBAB 11 Etika di Tengah Mesin — 50\r\nBAB 12 Kembali ke Laut, Kembali ke Manusia — 54\r\nGlosarium — 58\r\nLampiran — 60\r\nDaftar Pustaka — 63\r\nTentang Penulis — 64
No other version available